Kamis, 08 Mei 2014

Han Awal

“... Harus ada ciri khas dalam setiap rancangan yang kita buat, dan kita harus mampu mempertanggungjawabkannya. Baik dari awal, proses, sampai dengan keterbangunan desain kita berdiri kokoh.” –Han Awal

Petikan di atas keluar dari mulut seorang arsitek santun yang kini menginjak usia 83 tahun, Han Awal. Beliau adalah arsitek yang mengawali kariernya dengan mendirikan biro konsultan sendiri yang dikenal dengan nama PT Han Awal & Partners Architect. Prestasinya dalam merancang bangunan sudah tidak diragukan lagi, karyanya membuahkan penghargaan International Award Excellence UNESCO Asia Pasific Heritage untuk bangunan Gedung Museum Arsip Nasional. Karya lain yang menonjol dari beliau adalah Kampus Universitas Katolik Atma Jaya di Semanggi dan gedung sekolah Pangudi Luhur di Kebayoran Baru, Jakarta. Han Awal juga terlibat dalam pembangunan Gedung Conference of New Emerging Forces (Conefo) yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai gedung DPR/MPR.

Selain berkarya dalam bidang arsitektur, Han Awal merupakan pribadi yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan perancangan di Indonesia. Tercatat, selama perjalanan hidupnya, ia mengabdikan ilmu yang dimilikinya dengan menjadi seorang dosen di berbagai universitas, salah satunya adalah Universitas Indonesia. Ia juga aktif mendorong berdirinya Ikatan Arsitek Indonesia, ikut mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur dan memfasilitasi berdirinya ajang diskusi Arsitek Muda Indonesia. Kemurahan hati beliau dalam mencurahkan ilmunya sangat terlihat saat kami sekelompok bertandang ke kediamannya di daerah Kemang Raya, Jakarta Selatan. Dengan ramah beliau mengantarkan kami berkeliling di kediamannya dan menjelaskan satu persatu detail ruangan yang ada disana. Mulai dari halaman depan, lantai bawah, halaman belakang, dan terakhir adalah lantai atas.

Dari luar, rumah kediaman Han Awal tampak teduh dengan jajaran pohon rambutan serta pagar dan gerbang kayu yang rimbun tertutupi bunga dan sulur daun. Memasuki interior rumah, suasana tak jauh berbeda dari keadaan di luar. Suhu udara dan terang matahari sangat kaya berada di dalam akibat dari banyaknya bukaan yang berupa jendela tanpa teralis yang dapat dibuka. Lantai dasar ruang utama tersambung dengan area servis seperti garasi dan ruang pembantu. Sementara lantai atas dan ruang paviliun terdiri dari kamar tamu serta kamar anak-anak. Konsep ruang dari lantai dasar memperlihatkan sebuah komposisi ruang yang cair. Terlihat dengan ruang tamu, ruang duduk, serta ruang makan dan pantry yang melebur, yang hanya dibatasi oleh sedikit penurunan level. Birunya kolam renang menghiasi halaman belakang yang dinaungi oleh berbagai macam tumbuhan dan pepohonan yang menambah keasrian dari kediaman Han Awal. Dari rancangannya, beliau sangat memanfaatkan ruang yang tersedia. Terbukti pada lantai kedua, ada sebuah ruang yang memanfaatkan ruang kosong pada bentang miring atap. Hal ini diperkuat dengan perkataan beliau mengenai keefektifitasan ruangan.

“Arsitek adalah seorang penata. Tangannya diciptakan untuk menata ruang sehingga semua itu dapat berfungsi secara baik dan maksimal. Untuk itulah menjadi sebuah tantangan, saat saya harus merancang desain yang bagus dan baik namun dengan lahan yang terbatas.”

Han Awal juga menjelaskan, dalam prosesnya, ada tiga urat sari yang harus dibawa untuk menghasilkan sebuah perancangan yang baik. Pertama, kita harus mencoba berinteraksi dengan klien atau “pemberi tugas”, istilah yang sering disebutkan Han Awal. Bagaimana karakter klien kita dan apa saja yang mereka butuhkan, kemudian kita harus melakukan survey terlebih dahulu dengan menempatkan diri kita sebagai pemula. Artinya, dengan memposisikan diri seperti itu, kita akan menggali semakin dalam potensi-potensi yang ada pada tapak. Hal tersebut sangat berkaitan dengan poin yang kedua, yaitu analisis. Analisis menurut Han Awal dapat bermacam—macam, mulai dari analisis klien, tapak, lingkungan, dampak, sampai kepada peraturan dan keinginan klien yang harus diperhatikan. Hal ini harus dilakukan secara sistematis agar satu sama lain runut dan konsep yang  berhasil.  Survey tidak hanya dilakukan sekali, namun hal tersebut merupakan proses dari perancangan itu sendiri. Han Awal melakukannya sampai berkali-kali, secara runut sampai akhirnya gagasan itu muncul. Pengakuan beliau, gagasan sebenarnya bisa datang kapan saja, sebelum, sesudah, ataupun selama proses itu berlangsung. Dari sanalah kita akan belajar banyak hal dan menambah kepekaan kita sebagai seorang arsitek. Selanjutnya, setelah semua data matang, kita dapat membuat gagasan yang akan berlanjut pada proses pra perancangan kita. Prosesnya pun tak jauh dari analisis serta sintesis, mereduksi dengan melihat kondisi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu diperlukan diskusi lebih lanjut dengan klien terkait proses tersebut. Semakin banyak hal yang digali, semakin banyak kita mendesain, semakin banyak pula pelajaran dan pengalaman yang akan kita dapat.

Beliau menuturkan bahwa kita harus berani bermimpi. Arti mimpi disini ialah berani mengusung dan mewujudkan gagasan kita, bukan dengan yang muluk-muluk, melainkan mencari hal yang esensial. Dan menurut beliau mimpi kita dapat terepresentasikan lewat gambar kerja berupa denah, tampak, potongan, dan gambar detil. Kita dapat menggambarkan lebih detil lagi dari analisis-sintesis tentang bagaimana penataan tiap ruangnya, aktivitas yang dilakukan disana, serta dapat menggambarkan metode pelaksanaan dalam hal konstruksi. Apa saja materialnya, apakah hasil rancangan kita dapat dibangun, serta ukuran mendetil tiap ruangnya.

Han Awal juga menjelaskan bahwa sebenarnya tak ada pakem yang diharuskan dalam melakukan metode perancangan. Setiap arsitek mempunyai metode yang berbeda-beda dalam proses perancangan mereka. Yang beliau terangkan hanyalah salah satu dari sekian banyaknya metode. Metode analisis-sintesis secara mendetil dapat menggambarkan kemungkinan-kemungkinan desain bangunan yang akan kita garap, karena dengan melakukan metode tersebut kita tahu potensi apa yang ada pada tapak kita, entah itu kelebihan ataupun kekurangannya. Dari runutan yang mendalam terkait hal tersebut, pada akhirnya kita dapat mengambil sebuah keputusan yang efektif dan maksimal berdasarkan metode analisis-sintesis yang telah dipaparkan oleh Han Awal.


“Lakukan semuanya dengan hati,” papar beliau di penghujung wawancara sembari mengajak kami semua makan siang bersama.

Ditulis oleh:
Fahma Nurika Aisyah
Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

Selasa, 06 Mei 2014

Lelaki Baik

Aku ingin pergi, tapi kemana?

Malam ini ada hal yang sangat mengiris hatiku. Aku kesal, geram, marah! Marah sekali. Aku benci setengah mati. Satu hal, ketika kau belum siap menjaga hatinya, jangan coba-coba memainkan perasaan wanita. Kau pikir wanita itu apa?

Aku teriris sekali, walau bukan aku yang tertimpa, namun aku dapat merasakannya. Kau sudah melukainya! Aku benar-benar benci tipikal laki-laki seperti itu. 

Satu hal,
"Perempuan baik untuk lelaki baik, begitu pula sebaliknya."
Dan lelaki baik pasti langsung datang kepada Sang Pencipta.
Dan lelaki baik pasti meminta langsung kepada ayahanda.
Dan lelaki baik entah dimana..
Mungkin sedang sama-sama memperbaiki diri untuk menjemputmu disana.

Kutahu bukan untuk sekarang,  namun pengalaman nyata memberimu paham, bahwasanya kebahagiaan bukan hanya soal cinta yang terikrar, bukan hanya soal janji yang terlontar, rasa cinta ialah tanggung jawab yang harus diemban sampai nanti, sampai ke alam akhirat nanti. Hanya pada Allah lah tempatmu kembali. Serahkan semua kepada-Nya, karena Allahlah Yang Maha membolak-balikkan hati hambanya..

Dan padamu wanita, kumohon,
jagalah hatimu sampai Allah mengizinkannya.
Mengizinkan cinta yang manis terpatri pada dua insan manusia.