Kamis, 29 Agustus 2013

Asa

Assalamu'alaikum. Malam ini, aku terketuk dengan sebuah tulisan yang baru saja aku baca. Dari seorang manusia yang berbicara tentang pergolakan hidupnya, tentang dinamika hatinya dalam mengemban amanah. Hei, adakah yang bisa menjawab pertanyaanku? Sebenarnya, apa hakikat manusia diciptakan? Jika aku memikirkannya lebih dalam, ketakutan yang justru menyongsongku. Huru-hara mencabik-cabik tiap rasa penasaranku. Takut sekaligus ingin berubah lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi..

Apakah ini sepele? Jawabku, jelas tidak sama sekali. Ini amat penting dan bercabang kemana-mana. Mungkin ini inti, dasar dari segala apa yang aku yakini, rasa yang... aku tak bisa melukiskannya seperti apa, yang jelas, semakin dalam kau merasakan ini, semakin dalam rasa cinta sekaligus rasa bersalahmu terhadap Allah. Rasanya, tak pantas sekali diri ini mengeluh.

Aku tahu, mungkin saat membaca ini, ada yang tak mengerti apa yang aku utarakan. Namun akupun yakin siapapun yang sejalan dengan pemikiran ini, dengan cepat mereka akan paham maksudku. Tak tahu, yang jelas, dinamika itu akan selalu terjadi. Yang jelas, harus selalu tempatkan Allah pada jawaban pertamamu. Semoga Allah selalu ridho pada kita semua untuk langkahkan diri dan hati mengemban segala amanah di dunia. Dan Allah izinkan lewat amanah tersebut, amalan-amalan baik akan tercatat dan menjadi pemberat saat kelak kita dimintai pertanggungjawaban.

Bismillah. Apapun yang terjadi pada dirimu Fahma, yakini Allah selalu bersamamu.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Rutinitas dan Impian Selanjutnya

Hai! Liburan gue kali ini diisi dengan nambah banyak temen, super me-nye-nang-kan! Mulai dari craft class, gue kenal sama Tami dan adiknya, Wulan. Juga Gita anak FIB yang sangat suka membuat gelang-gelangan. Super seneng kalo ada banyak temen yang mau mendalami dunia "craft". Selain itu, liburan masih diisi dengan presentasi produk ke reviewer yang otomatis menyita waktu cukup banyak untuk mikirin desain apa yang kece untuk dilempar ke pasaran. Super seru juga karena banyak belajar!







Selain itu, Dreamdelion juga lagi ada beberapa kegiatan, dan lucunya kegiatannya sering di Bogor. Tanggal 25 ini kita berkolaborasi dengan OK! Magazine untuk ngajarin kerajinan tangan di daerah Megamendung, Puncak-Bogor. Pesertanya siswa SMK dan Ibu-ibu, wih super excited! Nambah temen & ilmu lagi Alhamdulillah :)

Pengmas Arsitektur juga lagi getol-getolnya bolak balik UI-Cikini lho! Ngapain tuh? Apa lagi kalau bukan mengurus bangunan yang nantinya akan jadi Perpustakaan untuk anak-anak disana, super seneng juga karena adek-adek Arsitektur banyak yang tertarik untuk mendalaminya. Semoga makin dimudahkan yah pergerakan kita semua demi perubahan yang lebih baik :")

Bulan September nantipun Insya Allah tim dari Pimnas UI akan berangkat ke Mataram untuk nyiapin  PKM dan non PKM seperti pameran Pimnas. Semoga dari UI banyak yang lolos dan menuju Pimnas! Super excited juga karena pasti akan nambah temen dari berbagai macam universitas di Indonesia. Apalagi tema yang diusung tahun ini berbeda dari sebelumnya, lebih banyak interaksi langsung dengan pengunjung yang akan datang. Ada semacam pemeriksaan kesehatan gratis, kontes twitpic, dan workshop yang melibatkan Mahalum UI. Nggak sabar! Deg-degan sebenernya nyiapin segalanya, tapi harus optimis! Semoga dipermudah oleh Allah segala-galanya Amiiin.



Oh iya, entah karena apa, tiba-tiba gue tertarik untuk belajar mendalami makhluk satu ini: jurnal. Denger-denger sih itu bermanfaat banget. Tujuan gue sebenernya (ini jangka panjang banget) biar bisa diskusi sama orang-orang hebat di luar negeri sana. Semoga suatu saat nanti gue bisa nambah banyak temen dari manca-negara. Sebenernya dari kemarin gue udah di kompor-komporin untuk nyoba ikut konferensi Internasional gitu, cuma kok di hati gue masih belum ngerasa sreg ya. Gue mikirnya, terus setelah ikut konferensi, yang mengikat kita apa? Apa udah gitu semacam seminar yang abis itu udah? *ngomong apa sih* haha tapi gue emang punya impian harus bisa ke luar negeri di saat gue masih jadi mahasiswa, tapi yang emang bener-bener manfaat, bukan sekadar acara hore-hore. Nah, akhirnya gue mengalihkannya ke si jurnal-jurnal ini dengan harapan dialah yang akan membawa gue bisa nambah ilmu banyak dari temen-temen mancanegara.

Sebenernya nggak menutup kemungkinan juga suatu saat guepun (mungkin) akan ikut semacam konferensi gitu, karena berdasarkan pengalaman senior-senior yang udah pernah ikut, banyak banget hal yang bisa nge-buka pikiran dan pandangan kita. Kita bisa banyak belajar dari mereka, lebih ke misal: cara berpikir mereka saat harus menyelesaikan permasalahan. Waktu itu gue pernah diceritain, kalo org negara apa cenderung mikirnya praktis dan taktis gitu, mereka nggak ribet-ribet gitu mikirnya, beda dengan gue yang cenderung ribet orangnya. Dari situ kita bisa belajar tentang efisiensi waktu juga saat mengalami masalah, jadi nggak lama-lama mikirin hal-hal yang sebenarnya nggak terlalu penting. Selain itu tentu kita bisa belajar karakter manusia dan kebudayaan mereka sendiri. Aaah banyak deh kalo bicara tentang impian :')

Tapi ada semacam tantangan tentang si jurnal-jurnal ini, gue belum terlalu ngerti dunia jurnal men-jurnal. Akhirnya gue langsung inget sama Mas Joko, dosen gue di Arsitektur yang asik banget kalo diajak diskusi. Dia selalu terbuka sama seluruh mahasiswanya, kalo gue jadi dosen nanti, gue mau ikutin jejaknya yang bisa jadi "temen" buat mahasiswa dengan cara gerak langsung ngasih contoh ke masyarakat. Jadi mahasiswa bisa meneladani dosennya sendiri, orang terdekat selama mereka kuliah. Mereka bisa lihat contoh nyata "Oooooh ini toh aplikasi ilmu Arsitektur bisa juga di ranah ini." Itu hal yang super kerasa nyata di diri gue dibandingkan dicecoki teori-teori tanpa diseimbangkan belajar langsung dari hiruk pikuk kehidupan.

Nah! Akhirnya gue menghubungi Mas Joko minta diberi bimbingan terkait jurnal-jurnal ini. Dan tentu aja, Mas Joko dengan suka cita menyambut niat itu. Pas gue cerita ke Abi, diapun antusias banget untuk ikutan belajar. Akhirnya Senin nanti kita mau diskusi bareng Mas Joko, semoga inilah awal menuju ilmu-ilmu baru yang nggak kalah menyenangkan! Kunci utama sebenernya selalu ingin terus dan terus untuk belajar, apapun itu. Saat mengalami kegagalan juga termasuk belajar, mengalami kesalahan juga belajar. Nggak ada yang sia-sia karena semua mengandung makna, dengan belajar gue makin ngerasa haus, makin ngerasa kerdil, makin ngerasa nikmat Allah itu besaaaaaar banget buat kita. Mengutip salah satu quote Andrea Hirata (ngambil dari profil twitter Fikar) haha ini gue suka banget! Quotenya pendek tapi maknanya super dalem!

"Dalam serpih-serpih cahaya dan gerak-gerik halus benda, tersimpan rahasia, mengapa kita ini ada?" -Andrea Hirata

Yup, dengan banyak belajar kita akan semakin terpukau dan terpesona dengan kekuasan Allah. Ayo selalu dan selalu merasa hauslah dalam belajar! :)

Sabtu, 10 Agustus 2013

Aku Menyayangimu

Aku sangat menyayangimu. 
Ramadhan merupakan saksi kita bertemu, waktu membawa kita begitu saja. Aku mengenalmu, kamu mengenalku. Seiring berjalannya waktu, kita menjadi amat dekat. Tali ini begitu erat. Adakah sebuah kebetulan? Aku yakin tidak.

Jelas Allah sudah mempersiapkannya. 
Ya, pertemuan kita. Pembelajaran apa yang dapat kita petik dari satu dan lainnya. Bagaimana kita dapat saling berbagi, saling menasehati, atau apapun dalam kehidupan kita. Pun kita terpaut dua tahun usia, itu bukan soal dalam menghambat derai tawa.

Aku sangat menyayangimu. 
Ini bukan soal cinta terhadap lawan jenis, namun ini adalah perasaan sayang seorang saudara, yang sangat menyayangimu karena Allah. Ini bukan kisah sembarang, bukan sebuah kebetulan yang tercipta, Allah yang izinkan kita untuk bersatu. Merajut mimpi menggapai pelangi di benak kita. Hingga akhirnya, kamu harus tahu..

Di kala resah begitu menghadang hati, di kala gundah begitu menyayat hati, sebisa mungkin, aku siap menjadi pendengar dan penasihat yang baik untukmu.

Dear sahabat, kakak, saudari, dan pejuang terbaik yang pernah aku kenal.
Kamu pasti bisa melewatinya, kamu pasti tahu bahwa janji Allah itu pasti. Pun bila rangkai kata tak mampu kau ucap, kasih sayang Allah-lah tempat terbaik untuk kembali. 

Aku tak tahu apakah sajak ini mampu menembus segala rasa gundahmu. Namun kuharap doaku pada-Nya sedikit membantu memecah persoalan hidupmu. 

"Allah.. Izinkanlah saudariku menuntaskan segala permasalahannya. Izinkanlah ia memiliki kehidupan yang berbahagia dari sebelumnya. Izinkanlah ia benar-benar merasakan kasih dan sayang-Mu. Lindungi ia Ya Rabb, penuhilah hatinya dengan limpahan cahaya-Mu yang tak pernah redup. Limpahkanlah hatinya dengan syukur atas segala kuasa-Mu. Jagalah ia Ya Rabb.. Jagalah diri dan hatinya untuk selalu ingat bahwa Engkaulah sebenar-benarnya tempat kembali. Bahwa Engkaulah sebenar-benarnya tempat mengadu.  Bahwa Engkaulah sebenar-benarnya Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.."



Minggu, 04 Agustus 2013

Ilusi

Ini adalah episode tersulit yang harus aku jalani,
dan harus aku mengerti.
Ini rentang waktu terlama yang harus segera kuputus pertaliannya.
Mungkin.. selama ini aku hanya merindukan sebuah ilusi.
Bukan kepada sosok, melainkan rasa.
Tapi.. bukankah justru lebih dalam rasanya?

***

Kalau boleh jujur, terkadang apa yang terasa di hati sangat membingungkan. Entah siapa lakonnya, entah siapa yang mengendalikan perasaan tersebut. Semua yang terasa begitu menyengat, menghisap segala emosi dan mungkin juga energi. Semua terhisap, habis. Semua tak bersisa, namun jejaknya masih sangat terasa.

Kalau boleh jujur, aku benci. Detik mengalun merdu tanpa tahu isi hatiku. Setiap ia lewat menjadikan aku candu, berulang kali membuka memori. Menutupnya kembali. Membuka, menutup, membuka, kemudian aku harus menutupnya dengan paksa. Tapi memori tetap disana, ia tak kemana-mana. Ia seperti menghukumku dengan lembut.

Akupun kian terjebak. Semakin tenggelam dalam permainan arus yang sengaja kubuat. Semakin terhisap oleh buncahan kenangan yang menguak. Mengoyak segala ruang, tidak memberinya sisa sama sekali. Aku benar-benar tak berdaya, kalah pada perasaan.

Kalau boleh jujur, harusnya aku bisa mengendalikan perasaan tersebut. Harusnya aku bisa lebih tegas mengutuk segala ilusiku, mengutuk segala rasa kasihan yang menggeluti hati. Harusnya aku jauh lebih tegar, berjalan satu, bukan setengah. Berjalan dengan pasti, bukan perlahan. Setengah hanya akan membuatnya semakin penuh, semakin tak terlepas, semakin tak terkendali. Aku mengelaknya dengan penguatan,

"Ini hanya soal waktu."

Benarkah hanya soal waktu? Yang aku lihat, itu hanya penguatan semu. Kamu belum bisa melupakannya, kamu tak akan terlepas darinya. Benarkah hanya soal waktu? Aku rasa, ini soal dirimu. Bukan waktu yang harus mengikuti luka hatimu, tapi kamu yang harus menyegerakan waktu untuk menyembuhkan segala lukamu.

***

Aku rasa...
 selama ini aku benar-benar hanya memimpikan sebuah ilusi.

Kamis, 01 Agustus 2013

Bolehkah aku merasa iri?

Ya,
Bolehkah aku merasa iri?
Bolehkah aku merasa kesal?
Iri dan kesal apa bedanya?
Jika boleh, aku hanya izinkan diriku untuk mengutarakannya disini.

Aku kecewa. Kecewa padamu yang beberapa waktu ini menghilang. Kau bilang memperbaiki dirimu beberapa waktu ini. Aku setuju. Sangat mendukungmu. Kau bilang sangat susah untuk izin keluar. Tapi nyatanya? Untuk urusan yang satunya kau bisa. Tapi untuk urusan lainnya yang merupakan prioritas untuk kita semua, kau tak hadir. Prasangkaku kau memang tak berusaha untuk izin hadir. Prasangkaku kau telah memprioritaskan yang lain, dan mengorbankan perasaan manusia lain. Setidaknya perasaanku, sahabatmu.

Sejujurnya aku teramat kesal. Tapi kenyataan yang aku lakukan adalah diam. Bagaimana mungkin aku marah padamu?

Aku kecewa. Dan jujur, aku menangis. Aku merasa ditinggal. Kamu pergi dengan perubahan yang lebih baik, aku turut bahagia. Namun aku sedih, kamu seperti melupakan aku dan lainnya. Melupakan mimpi yang pada awalnya merupakan mimpi kita bersama. Hanya sebentar tapi jujur, terasa perih. Hanya sebentar tapi jujur, membuatku iri.

Adakah hal lain yang lebih buruk selain iri terhadap sahabatmu sendiri?
Adakah hal yang lebih menyakitkan selain merasa ditinggal oleh sahabatmu sendiri?
Adakah hal yang lebih menyesakkan selain menangis tanpa bisa mengutarakan?

Aku tak tahu. Kejujuran tercepat yang akan aku lakukan adalah coba mengutarakannya padamu. Semoga aku mampu, dan... semoga kamu mengerti.