Kamis, 27 Juni 2013

Lucu

"Apakah kamu sudah belajar dari orang lain hari ini?
Apakah kamu sudah membaca banyak buku hari ini?
Apakah kamu berkomentar banyak tentang ketidakadilan?
Lalu kamu merasa cukup?"

Aku rasa tidak. Buku tetaplah sekumpulan pikiran manusia yang punya perspektif berbeda-beda. Bagaimana kita bisa mengetahui kebenarannya? Bagaimana kita bisa lebih objektif dalam memandangnya? Aku rasa jawabannya hanya satu, mengalaminya sendiri. Bukan hanya sekedar membaca lalu sok tahu dan merasa yang paling benar, tapi cobalah untuk merasakan lebih. Tapaki bumi dimana kamu berpijak, belajarlah dari sana, belajar lewat buku-buku yang sudah kamu baca. Buku bukan sekedar ilmu dan teori, tapi apa yang baik yang terkandung didalamnya, harus kita amalkan.

Sama seperti Al-Qur'an. Sama seperti kehidupan. Bagaimana kita bisa berkata bahwa kita mencintai Allah dan Rasul namun kita tidak melakukan aktivitas yang diwajibkan? Padahal arti iman sudah sangat jelas, ialah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan melakukan dengan perbuatan. Garis bawahi yang terakhir, melakukan dengan perbuatan. Lakukan. Iya, Lakukan!

Negeri ini sudah terlalu muak kepada mereka yang berteriak tentang ketidakadilan, namun tidak menghasilkan solusi apa-apa. Mereka kira hanya dengan berkomentar di media, hal itu sudah menjadi solusi untuk negeri? Berdalih mungkin saja ada manusia yang tergerak dan membantu masalah tersebut, tapi tanpa mereka turut serta dalam solusi? Hah, lucu. Sangat lucu..

Negeri ini sudah terlalu muak untuk mengharapkan bantuan orang lain. Mengharapkan ada manusia heroik lain yang lebih dulu bergerak. Mereka takut untuk maju lebih dulu, mereka takut mengungkapkan gagasan-gagasan mereka. Namun mereka berani bersorak sorai menyuruh orang lain untuk maju. Mereka ramai berpikir, orang lain saja yang merasakan pahitnya pengorbanan, mereka tak usah. Ya... bantulah sedikit-sedikit dengan kata "Semangat!" biar terlihat sedikit peduli. Ah.. lucu, sangat lucu.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."

(Al-Hadiid 57:20)

Senin, 24 Juni 2013

Dibalik Kesulitan, Ada Kemudahan

Toneeet! Ramadhan sebentar lagi! Alhamdulillah. Untuk tahun yang ini harus siap menghadapinya ya Fah! Menghadapi apa? Menghadapi kesalahanmu ;)

Emang itu kesalahan ya Fah? Nggak tau sih, gue juga bingung. Kalo dipikir, gue agak sedikit lebih dewasa juga karena belajar menghadapi dia. Hmmm kalo dipikir ya ada baik buruk tentu aja, tapi tetap menurut gue sebuah kesalahan.. Kalau dipikir untuk apa ya, selama bertahun-tahun gitu, bahkan pas udah juga tetep inget. Bukan masih suka, tapi gimana ya ada perasaan sungkan. Risih, pokoknya nggak mau untuk ketemu. Apa semua orang punya siklus macem gini? Hahaha yang jelas harus damai sama diri sendiri, abis itu ajak damai orang lain. Pokoknya nggak mau bikin sekat ah, harus bisa baik kondisinya seperti dulu. Padahal pas SMA asik gitu sana-sini kita temenan aja. Begitu muncul blasssh, udah deh kepisah-pisah. Temenan boleh kok, asal tau batas. Lah kalo terlalu menutup diri? Ah ya, gue lagi nggak mau berdebat.

Oke balik aah ke rutinitas harian, hari ini gue merasa amat lelah. Gue nggak bisa ngerasain ini sakit atau apa. yang jelas gue mual luar biasa, pusing juga luar biasa. Jadi ceritanya pas hari apa gitu gue ke Detos, gue ngapain ya ke Detos gue juga lupa, pokoknya di Jembatan Penyebrangan gue udah ngerasa muter-muter jalannya. Gue paksa-paksa aja tuh, dan pulang dengan selamat. Mungkin efek gue puasa, tapi biasanya nggak selemah itu. Gue pikir besoknya gue udah sehat-sehat aja, soalnya gue bawa tidur seharian, ternyata sampe hari ini masih kerasa pusing. Akhirnya hari ini kebanyakan buat tidurnya aja deh. Tapi tadi sekitar jam tujuh malem gue paksa untuk ke JNE deket Detos, ngirim si beruang unyu karena tim marketing lg pada nggak bisa semua. Dan super duper pas naik jembatan jalannya udah keliyengan kaya orang mau jatoh, rasanya tuh lelah sekali sodara-sodara. Guepun cuma berpikir, mungkin gue kurang olahraga dan kebanyakan tidur.

Atau sebenarnya yang paling mungkin....... kurang ibadah? Harus perbanyak dekat dgn Allah biar nggak gelisah dan merasa lelah :")


Hari ini selain tidur beneran dan tidur-tiduran nggak jelas, gue nonton Malaikat Tanpa Sayap. Nonton gratisan aja di Youtube, dan film itu berhasil membat gue nangis, walau nggak banjir-banjir amat. Soalnya ada beberapa scene yang gue rasa nggak realistis. Si tokoh utama *gue lupa namanya* kan jatuh miskin, trus dia mau jual jantung, akhirnya dapet duit kan. Tapi tuh duit dia pake-pake terus untuk kebutuhannya tanpa dia mikir tuh duit bisa buat usaha baru dan dia kerja. Dia malah asik pacaran nggak jelas gitu. Agak aneh sih menurut gue. Idealnya kalo orang susah nyari cara dia untuk bertahan hidup lebih lama. Kayanya jalan orang ini kelewat mudah dan terlalu klise mungkin ya. Ada beberapa adegan juga yang sinetron abis. Tapi overall, gue suka alur cerita dan hikmahnya.

Aaaah yaah, hari ini apa ya pelajarannya? Sederhana sih, ternyata masih banyak yang perhatian sama gue dan itu sangat membahagiakan. Allah selalu tunjukkan jalannya, tadinya bener-bener ruwet tiba-tiba hap hap solusi datang dengan indahnya. Alhamdulillah.. :")

Satu, dua, tiga, jejak-jejak ini semakin lama akan semakin luas dan merasakan yang belum pernah aku rasakan. Hati ini tentu tiap detiknya akan semakin banyak memahami arti rasa, tentu akan semakin banyak yang bisa aku ambil dan pelajari. Hal itulah yang tetap menjadikan aku kuat. Bukan karena aku manusia super yang tak ada habisnya dalam tenaga, namun karena semangat dan rasa bahagia itu yang menguatkan langkahku untuk berusaha memberikan yang terbaik. Semoga Allah selalu meridhoi jalan ini, semoga Allah tetap memelukku dengan segala Kasih dan Sayang-Nya, semoga Allah mengizinkan aku untuk menjadi hamba-Nya yang beriman....

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.  (Al  Baqarah 214)"

Kamis, 20 Juni 2013

Teka-Teki

Rasanya, topengnya terlalu penuh. Bak artis yang di depul sempurna, penuh ulasan make up sana-sini. Tapi toh nyatanya aku bisa melihatnya. Ya karena terlalu terlihat depulnya. Sana-sini.. Sana-sini.. Mungkin bisa dinamakan "membalas sesuatu." Memakai cara-cara halus, mengambil sedikit-sedikit, menggunakannya untuk keuntungan pribadi.

Tapi aku jadi sangat bersyukur. Allah menuntunku untuk semakin belajar, semakin memahami karakter manusia. Pasti ada rasa sakit di sini, di hati. Pasti ada rasa sedih, kecewa, dan marah. Tapi aku harus bisa mengeluarkannya dengan cara yang tepat. Harus dikeluarkan tentunya, jangan dipendam. Kalau terus-terusan dipendam, ia tak akan kemana-mana. Malah yang ada menggerogoti hatimu dan menjadi lemah. Karena perlu dikeluarkan dengan orang-orang yang tepat. Bukan dalam bentuk yang arogan, bisa kita keluarkan dengan menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Secara lembut. Itu akan membuat kita semakin bisa mengontrol diri sendiri.

Sebenarnya tak habis pikir, tapi memang tidak perlu dipikirkan. Semakin kesini kita harus semakin fokus terhadap apa yang kita tuju. Terhadap apa yang paling diprioritaskan. Terhadap apa yang lebih baik kita kuatkan dibandingkan memikirkan hal-hal sepele yang mematikan.

Benar, kita harus siap untuk dibenci. Kita harus siap menghadapi pro dan kontra. Kita harus siap melihat siapa sebenarnya teman kita. Tapi ingat. Kita juga harus siap untuk dicintai banyak orang, kita harus siap bersyukur terhadap orang-orang yang mendukung kita. Kita juga harus siap menyayangi dan mengasihi mereka. Selama jantung ini masih berdetak, tetap akan aku perjuangkan jalan ini. Karena aku tahu, Allah ada di dalamnya. Allah yang menetapkan segalanya. Allah yang memanggil kami dan meridhoi langkah ini.

Jika ditanya, penting mana, fokus pada kelemahan atau kekuatan? Aku rasa dua-duanya penting. Sama dengan pertanyaan, lebih penting mana, otak kanan atau otak kiri? Kamu bisa menjawabnya sekarang.

Untukmu seseorang, jika saja kau punya banyak hati untuk merasa. Terimakasih, kami sudah bisa melihat alurnya. Terimakasih karena itu menguatkan kami, kamu memang cerdik. Tapi percayalah, kami jauh lebih perasa dan ada Allah yang akan memperlihatkan semua.

Selasa, 18 Juni 2013

Iseng Mikir-Mikir

Mumpung masih hangat-hangatnya di pikiran nih haha gue berencana nulis tiap hari *semoga terlaksana* Isinya ya santai-santai aja seputar kehidupan gue dan yang paling penting pelajaran apa yang bisa gue ambil dari setiap aktivitas gue. Lebih ke evaluasi, karena semenjak kuliah ini gue jarang ngajak ngobrol diri gue lagi, jarang nyemangatin sisi gue yang suka aneh gitu. Emang sih mungkin karena gue lagi nyoba bertindak tanpa banyak rincian detail, karena dituntut harus mikir sana mikir sini gerak sana gerak sini. Dan jujur itu sangat melelahkan. Tapi ternyata butuh banget nih merenung kaya gini, terus evaluasi hari ini kekurangannya apa, besok harus ditingkatin lebih baik gitu. Ya, semacam itulah. Terus gue jadi mikir, kenapa sih kita butuh untuk berubah lebih baik lagi?

Coba nih ya, misalnya kita ada amanah di suatu organisasi. Misal kita jadi staff, kalo dari awal pikiran kita udah ngomong "Ah cuma jadi staff ini." Itu suatu hal yang fatal menurut gue. Berarti dia sendiri memposisikan diri dia sebagai orang yang apa ya, yang nggak pantes buat tampil gitu. Yang nggak layak untuk ikut serta ambil keputusan. Terus yang mikir "Gw mau ikut organisasi ah, tapi yang nggak ribet-ribet amat, yang kebanyakan gabutnya juga malah lebih asik." Dan tadaaa, dia ngambil pilihan jadi staff. Dan karena pikiran-pikirannya itu dia kadang suka cabut kalo ada rapat bidang. Mikirnya sepele "Ah cuma rabid ini, paling nggak penting-penting amat." Dan akhirnya peran dia bisa jadi harus diambil orang lain dan malah orang lain itu yang mengerjakan. Kalo menurut gue orang macem gini harus di babat habis. Kenapa?

Pertama, jujur gue paling kesel sama orang tipe kaya gini. Gini deh simpelnya, dia itu udah ngambil pilihan untuk megang amanah. Amanah itu kepercayaan kan, artinya dia harusnya siap mengemban segala tanggung jawab yang memang sudah dia pilih. Harusnya dia siap untuk mengambil peran di dalam komunitasnya. Tapi kalo kenyataannya dia kabur-kaburan, dihubungin nggak jelas ada dimana, ditanya tugasnya sampe mana jawabannya gantung-gantung gitu, kasarnya sih mending dari awal kalo tau dirinya nggak sanggup nggak usah daftar untuk ikut komunitas. Gitu sih kasarnya. Tapi itu berlaku untuk orang yang emang bener-bener nggak ada tanggung jawabnya sama orang lain. Tapi lain untuk orang yang awalnya emang dia nggak bisa apa-apa, nggak tau apa-apa, tapi dia mau belajar. Tapi dia mau jujur kalo nggak sanggup dan dia minta bantuan, itu jauh lebih apa ya, lebih menghargai. Setidaknya dia merespon apa yang orang lain berikan ke dia. Entah sms jarkom kek sekedar nanya, atau ada rabid tetep dateng.

Karena gini, gue selalu percaya pada hukum alam yang mengatakan bahwa: Apa yang kita tanam hari ini, akan kita tuai nantinya. Itu bener banget. Coba kita ambil contoh kasus yang diatas tadi. Dia jadi staff nih, misal kita ketua, terus dia kerja nggak becus. Sering telat, banyak alasan, kerjaan nggak kelar, dlsb. Pada awalnya mungkin kita huznuzon, tapi sadar nggak sadar, mau nggak mau, pasti rasa kepercayaan kita ke dia lama-lama akan terkikis. Jadi pas ada tugas lain kita jadi nggak mau ngasih ke dia karena takut pekerjaan itu nggak akan selesai di tangannya. Nah! Sayang banget kan, lain kalo misalnya kita berusaha lebih walaupun ada di posisi staff, itu bakal menancap di pikiran sang ketua "Wah ni anak aktif banget ya dan banyak ide." "Wah nih anak berani ambil keputusan." Mulai deh orang menilai diri kita. Emang rasanya nggak enak ketika orang udah menilai si A gini, B gini, C gini. Apalagi kalo yang jelek, pasti susah banget untuk dilupain dari benak orang lain. Nah itu, manusia memang sangat dekat dengan persepsinya sendiri. Pandangan pertama lah, kesan pertama, itu emang penting banget. Kalau dari awal kerjasama aja udah nggak enakin, gimana seterusnya? Kalau kita kerja dengan maksimal pastinya seterusnya kepercayaan itu tumbuh dan tumbuh. Dan ingat lho, kita berhubungan dengan mereka nggak putus hanya pas proker setahun kelar. Nggak gitu lah, setelah kuliah kelar kita butuh kerja kan. Nah, mulailah hukum alam bekerja. Nilai-nilai yang kita tanam dulu itu jauh lebih nancep di orang. Apalagi kalau kita dengan murah hati membantu orang sebanyak-banyaknya. Percaya deh, janji Allah itu pasti. Dan Allah paling suka sama hambanya yang membantu saudaranya sendiri. Rasakan nikmatnya deh, betapa Allah nantinya terus-terusan ngasih berkah ke kita. Memang layak kok kita terima kalau dari awalnya memang kita lalui dengan cara-cara yang baik. Rekomendasi pun pasti akan ngalir terus kepada kita. Jadi jangan pernah remehkan kerjaan apapun yang sedang kita kerjakan. Entah jadi yang bantu-bantu dulu lah, staff lah, atau apapun itu, sadarlah, suatu saat kebaikan akan berbuah manis dengan kebaikan pula. Allah menyiapkan hadiah yang super indah dan layak kita terima, jika kita memang berusaha dan melayakkan diri menuju kesana. Rezeki itu dicari lho, bukan hanya ditunggu. Rezeki itu usaha lho, bukan hanya berdoa. Sama aja kaya jodoh. Kita mau yang gini gini gini, bebet bibit bobot kayanya yang baik-baik dan sempurna semua. Tapi stop dulu ngayalnya, balik duru ke diri kita, udah melayakkan diri belum untuk mendapatkan yang seperti itu? Udah coba latihan belum untuk jadi seorang istri yang taat? Udah pantas belum mendapatkan yang sebaik itu? Beres-beres rumah setiap hari? Belajar masakkah? Mau dpt yang agama bagus tapi udah berusaha lebih dekat ke Allah? Yang kaya gitu itu harus dipikir dari sekarang dan tentu dipersiapkan. Jangan mau ngayal doang yang tinggi-tinggi ngarep dapet yang terbaik, tapi usaha nihil? Beh... jangan harap.

Ini juga yang kadang bergumul di otak gue. Mengharapkan orang lain untuk selalu ngasih ke dia. Contohnya jodoh tadi, ngarep yang sempurna tapi dia mau dirinya biasa-biasa aja. Ngarep ngertiin dia apa adanya dengan segala kekurangan tanpa mau berubah jadi lebih baik. Alasannya sih "Ini kan aku, kamu kalo sayang aku harusnya nerima aku yang kaya gini." Padahal sifatnya itu negatif, hadeeeh nggak habis pikir sama yg seperti itu. Ada lagi yang lucu, ngehalang-halangin pasangannya ikut ini lah ikut itu lah. "Kamu kan punya aku, kamu harus terus sama aku, kamu nggak boleh ikut ini, ikut itu." Plis, belom nikah aja hidupnya udah di skenarioin orang lain. Menurut gue sayang aja, padahal potensi dia pas muda sangat bisa diasah. Baru dari pengalamannya dia bisa ngambil banyak pelajaran. Dari sana kan dia bisa naik level, maksudnya dia bisa  merasakan arti hidup lebih dalam lagi dan bisa cari pasangan yang jauh lebih dewasa.

Kalo kata temen gue simpelnya gini, "Gue emang nggak mau pacaran bukan gara-gara nggak dibolehin sih. Tapi gini deh, ngapain coba kita ngurusin orang lain yang belum halal untuk kita, sementara kita ke adik/kakak sendiri nggak seperhatian itu? Ke Ibu kita aja deh, sering nggak sms Ibu lagi apa? Udah makan belum? Atau ke adik kita, kamu kemana aja hari ini? mau aku jemput nggak? Bagi gue, sukses enggaknya dia sama pasangannya terlihat dulu pertama dari sikap dia ke keluarganya. Dan kalo dia sayang keluarga dia bakal mikir-mikir tuh make duit orangtua buat tiap minggu diabisin ke bioskop dlsb."

"Kalo menurut gue, pacaran lama juga nggak jamin nikahnya bakal langgeng. Yaa nggak semua sih, tapi tetep aja kata Ibu gue pacaran itu beda banget sama nikah. Pacaran itu topengnya masih banyak, iyalah, yang diliatin yang bagus-bagusnya aja. Kalo nikah kan, kita bener-bener tau baik-jeleknya suami kita, gitu sih kasarnya. Terus pacaran buat latihan sebelum nikah? Gue rasa tetep aja, latihan mah sekalian tuh tidur bareng kaya nikah. Tapi yakali, justru malah ke kubangan dosa itu mah. Kita juga nggak bisa nentuin nasib kita. Usaha tentu aja harus, tapi pakai cara yang halal kalo gue maunya. Guenya belajar melayakkan diri dulu, tinggal Allah kasih kejutannya apa. Itu jauh lebih so sweet nggak sih?"

"Kalo bagi gue, kalo gue bener-bener sayang sama pasangan gue, justru gue bakal melepas dia. Kenapa? Karena saking sayangnya gue, gue nggak mau ngajak dia ke ranah dosa. Biarlah kita sama-sama melayakkan dan mendewasakan diri. Kalau ternyata nggak jodoh? Bukan fokus kepada itunya, tapi kepada keikhlasan dan kesabaran yang bisa kita lakukan, itu jauh lebih berharga ketimbang apapun. Gue selalu yakin, Allah yang lebih tau apa yang terbaik buat gue."

"Kalo masalah kita sakit hati sama orang lain, itu masih bisa disembuhin lah walopun ya susah banget. Tapi kalo Allah yang sakit hati sama kita? Waduh, mulai-mulai dipikir itu, pas nanti kita mati kita bawa amalan apa ya?"

_________________________________________________________________________________

Super banyak sebenernya yang berkecamuk di kepala gue. Tapi berhubung gue udah ngantuk lanjut besok aja dengan pemikiran-pemikiran lainnya. Mungkin besok masih sama omongannya ngalor ngidul kemana-mana. Tapi itulah gue, gue butuh menuangkan apa yang ada di otak gue haha hari ini cukup banyak pelajaran yang bisa gue ambil, salah satunya tentang amanah tadi itu. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat yang mengecewakan orang lain itu. Amin, yuk ah gdnight bloggers!

Rabu, 12 Juni 2013

Ayah

Kisah baru. Benar-benar sebuah kisah yang baru. Suka deh, ini begitu lucu. Selalu suka nunggu kejutan-kejutan dari-Nya. Apalagi ya, Allah bakal kasih apa lagi ya? :)

Mungkin nggak banyak orang yang tahu. Tapi entah kenapa ini kayak apa ya, hmmm kayak suatu titik yang ketemu sama titik lain, terus ketemu lagi, ketemu lagi, sampai akhirnya terlihat sekelebat pola gitu. Penasaran nunggu apa yang bakal terjadi selanjutnya, tapi nggak mau berbuat apa-apa juga. Soalnya lucu, kalo di apa-apain nggak akan jadi lucu lagi haha.

Ngomongin apa sih fah? Apa ya? Haha kejutan! Pokoknya sabar-sabar menunggu aja, Allah pasti kasih yg terbaik menurut-Nya.
_________________________________________________________________________________

Btw, kangen banget sama Ayah. Udah sekitar dua minggu Ayah ada di Blitar ngurusin proyek baru. Sekarang Ayah lagi nyoba bisnis tambang gitu. Sebenernya agak sedih, karena pas UAS kemarin gue sibuk buat tugas dan Ayah ada di rumah, terus pas liburan malah kebalikannya. Gue di rumah dan Ayah ke Blitar :(

Gue juga nggak ngerti kenapa Ayah masih se-semangat itu untuk buat bisnis baru. Padahal usaha yang di Pamulang kayanya baik-baik aja. Apalagi bisnis yang ini berbeda 180 derajat dr usaha Ayah sebelumnya. Dan otomatis lebih menguras waktu beliau. Bolak-balik keluar masuk Pulau Jawa dan Sumatera. Bolak-balik ketemu sama orang ini, orang itu dll. Betapa hebat dan semangatnya ia...

Sebenernya gue ngerti kenapa Ayah berusaha sampai sejauh itu, mungkin ini lebih ke ranah impian. Mungkin ayah gue yang asli Riau punya parameter kesuksesan yang tinggi. Dan mimpinya yang "itu" baru bisa dijalankan sekarang-sekarang ini. Tapi gue sedih aja lihatnya, tahun ini ayah memasuki umur 54. Ingin banget rasanya di masa-masa pensiunnya Ayah tinggal santai aja di rumah sama Ibu. Ingin banget punya waktu lebih banyak sama keluarga..

Mungkin ini lebih ke diri gue sendiri sih, gue ngerasa nggak enak banget karena kesibukan kuliah menyita perhatian gue untuk Ayah dan Ibu. UAS kemarin gue terlalu banyak nginep di Kutek karena emang harus fokus kesana. Pulang-pulang gue tetep harus menyelesaikan gambar-gambar gue dan otomatis kerjaan rumah jadi nggak bisa gue pegang. Sedih... pengen banget ngebantu Ayah dan Ibu. Yang paling nggak enak adalah proyek UAS ini ngabisin banyak duit. Suka sebel sebenernya kalo udah disuruh print digital. Satu A3 aja udah lumayan mahal, paling murah 6.500 tapi tetep aja kalo berkali-kali kan ya... abis lah beberapa ratus ribu untuk proyek UAS. Pas gue itung-itung lebih dari 500 ribuan. Astagfirullah.

Berkali-kali minta maaf sama Ayah karena kerjaannya minta duit mulu, tapi Ayah selalu bilang "Nggak papa, justru bersyukur kalo Ayah bisa ngasih tandanya orangtua kamu masih mampu, kamu belajar aja yang rajin." Hueee kalo inget Ayah rasanya mau nangis terus. Sayang..... banget sama Ayah.

Waktu itu, beberapa kali Ayah sempet nyinggung sesuatu, tentang gue yang suatu saat akan melanjutkan usahanya. Waktu itu gue menolak habis-habisan karena nggak sesuai dengan apa yang gue suka. Tambang gitu, tambang. Mana ngerti gue soal itu. Waktu itu Ayah nyuruh gue buat belajar manajemen dan ekonomi, beliau selalu berharap gue bisa berbisnis di lingkaran yang seperti itu. Selama ini gue mikir bisnis gituan nggak asik soalnya kaku gitu. Tapi itu hanya asumsi gue sih, kenyataannya gue nggak tau gimana.

Setelah gue wara-wiri ikut seminar dan pelatihan gratis sana-sini gue belajar banyak hal. Gue juga diajarin tentang bisnis korporat gitu, bisnis yang gede-gede. Dan seakan itu ngebuka mata gue, ya, mungkin suatu saat gue memang akan meneruskan usaha Ayah.. Mungkin.

Satu hal sih, gue cuma mau membahagiakan Ayah tersayang gue. Ayah yang selama ini udah mati-matian untuk kehidupan Fahma. Ayah yang selama ini udah sangat menjaga Fahma. Ayah terhebat! Ayah yang paling ngerti anak-anaknya. Ayah... cepat pulang, Fahma kangen.